Tasawuf Akhlaki/Amali


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


A. Definisi Tasawuf Akhlaki/Amali

Tasawuf menurut Ma’ruf Al-Karkhi adalah menempuh jalan hakikat, dan memutuskan kepada sesama makhluk. Sedangkan menurut Hasan Ats-Tsauri, tasawuf berarti membenci dunia dalam usahanya mendekati dan mencintai Allah Swt semata. Sementara itu, Junaid Al-Baghdadi (wafat 297 H/910 M) berpendapat, sebagaimana dikutip oleh Bachrun Rif’I, tasawuf adalah membersihkan hati dari sifat-sifat yang menyamai binatang, menekan sifat basyariyah, menjauhi hawa nafsu, memberikan tempat bagi sifat kerohanian, berpegang pada ilmu kebenaran, mengamalkan sesuatu yang lebih utama atas dasar keabadiannya, menepati janji kepada Allah dan mengikuti syariat Rosulullah. Dari beberapa definisi di atas, maka tasawuf bisa diartikan sebagai zuhud di dunia dan menghadapkan amal perbuatannya hanya untuk Allah, dan meninggalkan hal-hal yang menyelewengkan dari tujuan utamanya yakni hanya berorientasi pada kecintaannya kepada Allah.

Tasawuf akhlaki dan amali termasuk jenis dari tasawuf sunni, biasanya ada juga yang langsung menggabungkan kedua istilah tasawuf tersebut dengan sebutan tasawuf sunni akhlaki dan tasawuf sunni amali. Perbedaan antara keduanya terletak pada penekanan orientasinya, tasawuf akhlaki lebih menekankan pembinaan mental melalui pengendalian nafsu dalam upaya mendekatkan diri dengan Tuhan. Sedangkan tasawuf amali, lebih menekankan pembinaan moral dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam penelitian ini yang menjadi fokus pembahasannya adalah tasawuf amali. Pun demikian, pembahasan tasawuf amali ini tidak bisa mengesampingkan begitu saja tasawuf akhlaki, karena sebenarnya tasawuf amali merupakan kelanjutan dari ajaran tasawuf akhlaki. Sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya, tasawuf amali merupakan kelanjutan dari tasawuf akhlaki karena seseorang yang ingin berhubungan dengan Allah maka ia harus membersihkan jiwanya, sebagaimana Allah berfirman: “dan Allah menyukai orang-orang yang bersih” (Qs. At-Taubah;108) dan “sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (Qs Al-Baqoroh:222).


B. Metode-Metode Tasawuf Akhlaki/Amali

1. Metode Pengajaran Akhlaki

Para kaum sufi telah membuat sebuah sistem yang tersusun secara teratur yang berisi ajaran tasawuf akhlaki. Ajaran Tasawuf akhlaqi diantaranya sebagai berikut:

a. Takhalli

Adalah mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela, dari maksiat lahir dan maksiat batin. Definisi lain mengatakan bahwa, Takhallī adalah membersihkan diri sifat-sifat tercela dan juga dari kotoran atau penyakit hati yang merusak. Potensi nafsu yang ada dalam diri manusia harus dikendalikan, menurut para sufi agar manusia lebih maju, lebih bersungguh-sungguh menabur kebaikan dan kebajikan. Bukan sebaliknya, manusia diperbudak nafsu dan malah menuhankan nafsunya, dan menyimpang dari kebenaran. Takhallī juga berarti mengosongkan diri sikap ketergantungan terhadap kelezatan duniawi. Al-Ghazali berpendapat bahwa sifat- sifat tercela itu adalah najis ma'nawi (najasah ma'nawiyah). Kalau seseorang tidak bersih dari najis maka hatinya menjadi kotor. Seluruh aktifitasnya menjadi kotor, dan tidak mungkin bisa dekat kepada Tuhan. Konsep al-zuhd (anti dunia) adalah langkah strategis yang tepat dengan menanamkan rasa benci kepada kehidupan dunia serta mematikan hawa nafsu.

b. Tahalli

Adalah menghiasi diri pribadi dengan kebaikan dan kebajikan, taat atas segala yang diajarkan agama. Ketaatan atas syariat agama yang bersifat formal, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya. Akhlaknya menjadi tradisi dan kebiasaan yang melekat pada seluruh aspek hidupnya. Sifat-sifat yang baik datang dan sifat-sifat buruk hilang. Hal itu adalah suatu perjuangan yang selalu diusahakan. Tahalli, merupakan tahap pengisian jiwa setelah usaha pengosongan dari sifat dan sikap mental yang buruk.

Menurut sufi, jasmani dan rohani yang sehat adalah langkah pertama dalam rangkaian perjalanan kehidupan spiritual yang lebih kuat dan sungguh- sungguh. Latihan untuk meningkatkan amalan-amalan keagamaan dengan riyadlah dan mujahadah bernilai spiritual yang cukup berat. Tujuannya adalah untuk mengendalikan dan menguasai hawa nafsu. Jiwa manusia, menurut al-Ghazali, dapat dilatih, dikendalikan, dikuasai, diubah dan dapat dibentuk sesuai keinginan manusia itu sendiri. Latihan yang kuat dan terus menerus akan menjadi suatu kebiasaan yang mentradisi dan dari kebiasaan akan melahirkan kepribadian. Seseorang yang mampu mentradisikan takhalli dan tahalli, tertempa kepribadiannya dalam segala praktik hidup kesehariannya berdasarkan niat yang ikhlas. Keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Swt., ikhlas dalam mengabdi untuk syiar agama, ikhlas bekerja untuk kepentingan masyarakat dan bangsa dan negara, ikhlas untuk berbuat kebaikan kebajikan.

c. Tajalli

Adalah tahap yang dapat ditempuh oleh seorang hamba ketika ia sudah mampu melalui tahap Takhalli dan Tahalli. Tajalli adalah lenyapnya atau hilangnya hijab dari sifat kemanusiaan atau terangnya nur yang selama itu tersembunyi atau fana segala sesuatu selain Allah, ketika nampak wajah Allah. Tahap Tajalli digapai oleh seorang hamba ketika mereka telah mampu melewati tahap Takhalli dan Tahalli. Hal ini berarti untuk menempuh tahap Tajalli seorang hamba harus melakukan suatu usaha serta latihan-latihan kejiwaan atau kerohanian, yakni dengan membersihkan dirinya dari penyakit-penyakit jiwa seperti berbagai bentuk perbuatan maksiat dan tercela, kemegahan dan kenikmatan dunia lalu mengisinya dengan perbuatan-perbuatan, sikap, dan sifat-sifat yang terpuji, memperbanyak dzikir, ingat kepada Allah, memperbanyak ibadah dan menghiasi diri dengan amalan-amalan mahmudah yang dapat menghilangkan penyakit jiwa dalam hati atau diri seorang hamba. Tajalli adalah terungkapnya nur ghaib untuk hati seseorang mukmin. Terbukanya hijab (penutup) yang selama ini melekat dalam sifat-sifat kemanusiaan (basyariyah), dan sekaligus terang benderang nur memancar dari cahaya yang Maha Suci. Berdasarkan firman Allah ''Allahu nuurussamaawaati wal-ardli" yang artinya Allah Swt adalah Nur (cahaya) langit dan bumi.

2. Metode Pengajaran Tasawuf Amali

Penelusuran terhadap dasar ajaran tasawuf Amali, dapat ditelusuri melalui ajaran dasar Islam. Hal itu dimaksudkan untuk melihat bagaimana ia mempertautkan komponen-komponen ajaran dasar itu, dan apa saja yang dijadikan sumber dari ajarannya. Ajaran dasar Islam dapat dikategorisasikan menjadi tiga komponen, yaitu iman (aqidah), Islam (syari’ah: ibadah dan muamalah), dan ihsan (akhlaq-tasawuf).

Ajaran dasar pertama ialah iman, atau istilah lain adalah aqidah. Iman atau aqidah merupakan prinsip keyakinan yang paling fundamental. Agama Islam mengajarkan pokok-pokok kepercayaan yang harus diyakini oleh setiap orang yang mengaku dirinya sebagai seorang mukmin. Perkembangan pemikiran mengenai pokok-pokok kepercayaan itu telah melahirkan aliran-aliran kalam, seperti Qadariyyah, Jabariyyah, Khawarij, Mu’tazilah, Murji’ah, Asy’ariyyah, Syi’ah. Dari sinilah lahir para filosuf muslim dengan membawa argumen-argumen rasional, antara lain al- Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Rusd dan lain-lain.

Ajaran dasar kedua adalah Islam. Penjabarannnya kemudian lebih populer dengan istilah syari’ah. Syari’ah diartikan sebagai peraturan Tuhan yang harus dipatuhi oleh setiap muslim. Peraturan itu ada yang berkenaan dengan hubungan antara manusia dan Tuhan (habl min Allah) dan ada yang berkenaan dengan hubungan antara manusia (habl min al- Nas) atau hubungan kemasyarakatan. Hubungan manusia dengan Tuhan lazim disebut ibadah, dan hubungan kemasyarakatan lazim disebut dengan mu’amalah. Perkembangan pemikiran terhadap ajaran dasar kedua ini telah melahirkan mazhab- mazhab fiqh (hukum Islam), seperti Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hambaliyyah, danlain-lain.

Ajaran dasar ketiga adalah ihsan. Ihsan merupakan ajaran tentang rasa penghayatan akan hadirnya Tuhan dalam kehidupan seseorang. Penghayatan akan kehadiran Tuhan dapat dilakukan melalui ibadah kepada-Nya, sehingga seseorang merasa dekat kepada Tuhan, seolah-olah ia melihat Tuhan atau sekurang-kurangnya harus disadari Tuhan melihat dia. Rasa penghayatan akan kehadiran Tuhan dalam diri seseorang ini kemudian dikembangkan dalam tasawuf. Perkembangan pemikiran dan pengalaman tasawuf telah melahirkan tokoh-tokoh sufi dan aliran tasawuf. Di antara tokoh-tokoh sufi tercatat nama Rabi’ah al-Adawiyah, Dzunun al-Misri, Abi Yazid al-Busthami, Al-Hallaj, Al-Ghazali. Dari tokoh sufi tarekat terkenal seperti Syaikh ‘Abd al-Qadir al-Jailani, Syaikh Bahauddin al- Naqsabandi, Syaikh Abû Hasan al-Syadzalli dan lain-lain.

Pada hakekatnya, ketiga ajaran dasar Islam di atas, antara satu komponen dengan komponen lainnya saling mendukung dan bersifat integratif. Artinya masing-masing komponen tidak bisa dipisahkan secara parsial, tetapi harus dipahami secara integral. Islam tidak absah tanpa iman, dan iman tidak sempurna tanpa ihsan. Bahkan keterkaitan itu bisa bersinergi secara bersamaan, sehingga setiap satu komponen dari tiga komponen itu mengandung makna dua komponen lainnya. Dalam Islam terdapat iman dan ihsan, dalam iman terdapat ihsan, dan dalam ihsan terdapat islam dan iman.


C. Tokoh-Tokoh TasawufAkhlaki/Amali

1. Tasawuf Amali

Dalam ilmu sejarah, tasawuf dalam Islam merupakan aliran yang berdiri sendiri. Seiring dengan berjalanya waktu, perkembangan ilmu tasawuf semakin meluas dan diikuti oleh kalangan sufi. Mereka percaya bahwa benih-benih tasawuf sebenarnya telah ada sejak zaman Rosulullah Muhammad SAW di Gua Hiro (sebelum di utus menjadi rosul) di jadikan acuan utama oleh penganut sufisme untuk berkhalwat. Dalam ajaran tasawuf amali terdapat tokoh-tokoh yang berperan penting diantaranya adalah Hasan Al- Basri, Robi`ah Al-Adawiyah dan Dzun Nun Al-Misri.

a. Hasan Al-Basri ( 21 H-110 H)

Hasan Al-Basri memiliki nama lengkapnya Al-Hasan bin Abi Al-Hasan Abu Said, lahir di Madinah pada tahun 21 H. Beliau adalah seorang sufi tabi’in yang termasyhur pada masanya. Prinsip ajaran taswuf Hasan Al-Basri yang paling utama adalah bersikap zuhud kepada dunia. Selain itu Hasan Al-Basri juga mengajarkan untuk berbuat Khauf (rasa takut) dan Raja’ (pengharapan) yang berarti merasa takut akan siksa Allah SWT dan memeohon ampun atas segala dosa-dosa yang telah diperbuat.

b. Robi’ah Al-Adawiyah (96 H-185H)

Robi’ah Al-Adawiyah memiliki nama lengkap Ummu Al-Khair Rabi’ah Al-Adawiyah Al-Qisiya. Beliau di lahirkan di Basrah pada tahun 96 Hijriyah. Kehidupan beliau diliputi dengan kemiskinan, beliau tidak mau menerima bantuan dari orang lain. Kehidupan sehari-harinya di habiskan untuk selalu beribadah kepada Allah SWT dan juga menjauhi urusan yang bersifat duniawi. Konsep dari ajaran tasawuf Robi’ah Al-Adawiyah berfokus pada Al-Hubb (cinta) kepada Allah SWT. Cinta yang di anut oleh Robi’ah ini merupakan hubb al-hawa dan hubb anta ahl lahu. Dari tafsir Abu Thalib Al-Makiy menjelaskan bahwa hubb al-hawa berarti rasa cinta yang timbul karena nikmat yang kebaikan yang di berikan Allah SWT. Sedangkan, hubb anta ahl lahu bararti rasa cinta yang timbul hanya untuk yang di cintai, tulus bukan karena kesenangan duniawi.

c. Dzun Nun Al-Misri ( 180 H-246H)

Dzun Nun adalah seorang sufi yang hidup di pedalam mesir sekitar pertengahan abad ke-3 Hijriyah, beliau lahir di tahun 180 H. Beliau memeiliki nama lengkap Abu Al-Faidil bin Ibrahim Dzun Al-Misri. Konsep tasawuf beliau menonjolkan tentang ma’rifat. Bahkan pendapat-pendapat beliau di anggap zindiq (tidak berpegang teguh dengan agama).

2. Tasawuf Akhlaki

Berikut ini beberapa tokoh yang paling berpengaruh dalam pengembangan tasawuf akhlaqi :

a. Hasan Al-Basri (21H-110H)

Hasan Al-Basri adalah seorang zahid dari kalangan tabi'in yang lahir di Madinah pada tahun 21 Hijriyah. Beliau merupakan pelopor utama yang mulai meluaskan ilmu-ilmu kebatinan dan kesucian jiwa. Beliau berpandangan bahwa tasawuf merupakan ajaran untuk menanamkan rasa takut kepada Allah SWT di dalam diri setiap hamba. Beliau juga berpendapat bahwa dunia ini adalah ladang beramal, banyak duka cita yang dapat memperteguh amal sholat.

b. Al-Muhasibi (165H-243H)

Al-Muhasibi memeiliki nama lengkap Abu Abdillah Al-Harist bin Asad Al-Basri Al-Baghdadi Al-Muhasibi. Beliau lahir di Basrah, Irak pada tahun 165 Hijriyah. Menurut beliau tasawuf adalah ilmu yang mengajarkan untuk selalu bertaqwa kepada Allah SWT, menjalankan kewajiban sebagai hamba Allah dan meneladani Rosulullah SAW. Kemudian beliau juga berpendapat bahwa ada 3 hal yang perlu di tekankan untuk membersihkan jiwa dan untuk mencapai jalan keselamatan. 3 hal tersebut adalah melalui ma’rifat, khauf, dan raja’.

c. Al-Qusyairi ( 376H-465H)

Al-Qusyairi memiliki nama lengkap Abdul Karim bin Hawazim. Beliau lahir di kawasan Nishafur pada tahun 465 Hijriyah. Beliau merupakan seorang ulama’ yang ahli dalam berbagai disiplin ilmu pada masanya. Ajaran tasawuf Al-Qusyairi di dasarkan pada Ahlusunnah Wal Jama’ah yang berlandasan ketauhidan. Menurutnya tidak haram jika seseorang menikmati kenikmatan dunia, asalkan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

d. Al-Ghazali (450H-505H)

Al-Ghazali memiliki nama lengkap Muhammad ibn Muhammad ibn Ahmad Al-Thusi. Beliau lahir di Khusaran. Beliau di kenal sebagai seorang sufi, filosof, fuqoha dan mutakallimin. Al-Ghazali berupaya mengembalikan ajaran tasawuf yang sesuai syariat agama islam, dengan berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah. Al-Ghazali lebih kepada penekanan pendidikan moral, dimana seseorang dianjurkan memperdalam ilmu aqidah dan syariat terlebih dahulu sebelum mempelajari ketasawufan.


Dari pemaparan di atas, kita dapat menambah wawasan pengetahuan mengenai tasawuf. Kita juga dapat mengenal tokoh-tokoh tasawuf yang begitu luar biasa. Pengetahuan-pengetahuan diatas mengajarkan kepada kita tentang pentingnya pembinaan mental melalui pengendalian nafsu dan pembinaan moral dalam upaya mendekatkan diri kepada Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.

وَاللّٰهُ أَعْلَمُ ﺑِﺎ ﻟﺼَّﻮَﺍﺏ

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA’RIFAT DAN RIDHO

MAKALAH MAQAMAT DALAM TASAWUF : TAUBAT DAN SABAR

MAQOMAT DALAM TASWUF : TAWAKAL DAN MAHABBAH