A. Pengertian Maqomat Dalam Dunia Tasawuf
Maqamat adalah bentuk jamak dari kata maqam, yang secara bahasa berarti pangkat atau derajat. Dalam bahasa Inggris, maqamat disebut dengan istilah stations atau stages. Sementara menurut istilah ilmu tasawuf, maqamat adalah kedudukan seorang hamba di hadapan Allah, yang diperoleh dengan melalui peribadatan, mujahadat dan lain-lain, latihan spritual serta (berhubungan) yang tidak putus-putusnya dengan Allah swt. atau secara teknis maqamat juga berarti aktivitas dan usaha maksimal seorang sufi untuk meningkatkan kualitas spiritual dan kedudukannya (maqam) di hadapan Allah swt. dengan amalan-amalan tertentu sampai adanya petunjuk untuk mengubah pada konsentrasi terhadap amalan tertentu lainnya, yang diyaini sebagai amalan yang lebih tinggi nilai spirituanya di hadapan Allah swt.
Dalam rangka meraih derajat kesempurnaan, seorang sufi dituntut untuk melampaui tahapan-tahapan spiritual, memiliki suatu konsepsi tentang jalan (tharikat) menuju Allah swt.jalan ini dimulai dengan latihan-latihan rohaniah (riyadhah) lalu secara bertahap menempuh berbagai fase yang dalam tradisi tasawuf dikenal dengan maqam (tingkatan).
Tingakatan (maqam) adalah tingkatan seorang hamba di hadapan Allah tidak lain merupakan kualitas kejiwaan yang bersifat tetap, inilah yang membedakan dengan keaadaan spiritual (hal) yang bersifat sementara. Berdasarkan pengertian di atas dapat dikatakan bahwa maqam dijalani seorang salik melalui usaha yang sungguh-sungguh, sejumlah kewajiban yang harus ditempuh untuk jangka waktu tertentu.
B. Pengertian Tawakal Dan Mahabbah
1. Pengertian Tawakal
Kata “penyerahan diri sepenuhnya kepada allah” dalam bahasa agama disebut tawakal. Tawakal merupakan tempat persinggahan serta tempat ketergantungan kita terhadap Allah swt. Tawakal mempunyai kebergantungan secara khusus dengan keumuman perbuatan dari sifat-sifat allah swt. Semua sifat allah swt dijadikan gantungan tawakal. Maka siapa yang lebih banyak ma’rifatnya tentang Allah swt, maka tawakalnya juga lebih kuat. Tawakal yaitu menyerahkan keputusan segala perkara, ikhtiar dan usaha kepada allah swt. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tawakal adalah penyerahan segala perkara, ikhtiar, dan usaha yang dilakukan kepada Allah swt serta berserah diri sepenuhnya kepada-NYA untuk mendapatkan kemashlahatan atau menolak kemudhorotan.
Menurut Quraish Shibah, tawakal bukan berarti penyerahan mutlak kepada allah swt, tetapi penyerahan tersebut harus didahului dengan usaha manusiawi. Menurut M. Yunan Nasution apabila segala ihktiar sudah dilakukan, barulah berserah diri kepada allah swt, dan tawakal itu pun tidak boleh secara total menghentikan usaha atau ikhtiar.
2. Pengertian Mahabbah
Secara bahasa cinta atau mahabbah dalam bahasa latin mempunyai istilah amor dan caritas. Dalam istilah Yunani disebut juga phillia, eros, dan egape. Phillia mempunyai konotasi cinta yang terdapat dalam persahabatn, sedangkan amor dan eros ialah jenis cinta berdasarkan keinginginan. Kemudian caritas dan egape merupakan tipe cinta yang lebih tinggi dan tidak mementingkan diri sendiri. Konsep cinta merupakan subjek meditasi filosofis yang berkaitan dengan masalah-masalah etis. Ia sebagai salah satu dorongan manusia yang paling kuat. Cinta atau yang dikenal bahasa arabnya yaitu mahabbah berasal dari kata Ahabbah-Yuhibbu-Mahabbatan, yang berarti mencintai secara mendalam. Dalam al-mu’jam al falsafi , jamil shaliba mengatakan mahabbah adalah lawan dari benci. Kemudian juga pula dapat diartikan al-wadud yang berarti sangat kasih atau sayang. Kemudian ada yang berpendapat kata mahabbah diambil dari kata “hub” uang berarti empat batang kayu yang digunakan untuk meletakkan bejana atau wadah lainya. Hal itu menggambarkan bahwa seorang pecinta selalu siap memikul beban apapun demi kekasih. Jadi, orang yang mencintai Allah swt akan taat kepada perintah-NYA dan menjauhi laranga-NYA.
Secara istilah mahabbbah terdapat perbedaan menurut kalangan sufi, karena persepsi mereka ungkapkan berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka. Pendapat kaum Teologi yang diberikan kepada manusia, kemudian keingnan manusia ingin menyatu dengan tuhan juga perasaan berbakti dan bersahabat seseorang kepada lainya. Pengertian tersebut bersifat umum sebagaimana yang dipahami masyarakat bahwa ada cinta Tuhan kepada manusia dan sebaliknya, ada mahabbah manusia kepadanya dan sesama.
C. Dalil Tawakal Dan Mahabbah
1. Dalil Al-Qur’an dan Hadist yang menjelaskan tentang tawakal (Al- Tawakkal)
a. Al-Qur'an
Al-Ghazali menyebutkan dalil-dalil kewajiban dan keutamaan tawakal kitab ihya’ ‘ulum al-Din. Di antaranya adalah :
1) Q.S. Al-Maidah/5:23
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْن
Artinya : Berkatalah dua orang laki-laki di antara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, "Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman."
2) Q.S. Ibrahim/14:12
وَمَا لَنَآ اَلَّا نَتَوَكَّلَ عَلَى اللّٰهِ وَقَدْ هَدٰىنَا سُبُلَنَاۗ وَلَنَصْبِرَنَّ عَلٰى مَآ اٰذَيْتُمُوْنَاۗ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ
Artinya : Dan mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah, sedangkan Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh, akan tetap bersabar terhadap gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang yang bertawakal berserah diri."
b. Hadist
Dalam Sunan al-Turmudzi, disebutkan: Artinya : “Dari ‘Umar ibn al-Khaththab, ia berkata bahwa Rasulullah Saw. berkata sekiranya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, pasti Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada Burung, pagi hari pergi dalam keadaan lapar dan sore hari pulang dalam keadaan kenyang.”
2. Dalil Al-Qur’an dan Hadist yang menjelaskan tentang Cinta (Al-Mahabbah)
a. Al- Qur’an
1) Q.S. Ali Imran ayat 31 :
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya : Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
2) Q.S.al- shaff 61:4
اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِهٖ صَفًّا كَاَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَّرْصُوْصٌ
Artinya : Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
b. Hadits
1) Hadits Riwayat Abu Hurairah r. a :
Artinya : “ Barangsiapa yang senang bertemu kepada Allah, maka Allah senang bertemu dengannya. Barangsiapa yang tidak senang bertemu Allah, maka Allah pun juga tidak senang bertemu dengannya”. ( HR. Bukhori)
2) Hadits Riwayat Anas bin Malik :
Artinya : “ Barangsiapa yang menghina wali-Ku ( kekasih-Ku ), sesungguhnya ia telah terang-terangan memerangi-Ku. Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan seperti Keraguan-Ku ketika mencabut nyawa hamba-Ku yang beriman. Dia benci kematian dan saya tidak mau menyakitinya, sedangkan kematian itu pasti ada. Tidak ada sesuatu yang paling Aku sukai yang bisa mendekatkan hamba-Ku dengan-Ku lebih dari melakukan kewajiban yang Aku perintahkan kepadanya. Dan senantiasa mendekati-Ku dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunat sampai Aku mencintainya. Dan barangsiapa yang telah Aku cintai, maka Aku mendengar, melihat, menolong, dan mendukung-nya.”
D. Macam-Macam Tawakal dan Mahabbah
1. Macam-macam tawakal
Tawakal dibagi menjadi dua macam yakni :
a. Tawakal kepada Allah
Macam-macam tawakal kepada Allah dibagi menjadi empat yakni:
1) Tawakal kepada Allah dalam istiqomah dirinya dengan petunjuknya, pemurnian tauhid.
2) Tawakal kepada Allah dalam penegakan agama Allah di muka bumi, menanggulangi kehancuran, melawan bid’ah, berijtihad melawan orang kafir, amar ma’ruf nahi munkar.
3) Tawakal kepada Allah dalam rangka seorang hamba ingin mendapatkan berbagai hajat dan bagian duniawi atau dalam rangka menghindari berbagai hal yang tidak diharapkan dan berbagai musibah duniawi.
4) Tawakal kepada Allah dalam rangka mendapatkan dosa dan kekejian.
b. Tawakal kepada selain Allah
Tawakal kepada selain Allah terbagi menjadi dua yakni :
1) Tawakal bernuansa syirik
Tawakal bernuansa syirik terbagi menjadi dua yakni :
Pertama, tawakal kepada selain Allah ta’ala dalam hal yang tidak mampu mensikapinya selain Allah azza wa jalla, “seperti halnya orang-orang yang bertawakal kepada orang-orang yang telah mati dan para thaghut dalam rangka menyampaikan harapan tuntutannya berupa pemeliharaan, penjagaan, rezeki dan syafa’at.
Kedua, tawakal kepada selain Allah berkenaan dengan perkara-perkara yang dimampui sebagaimana yang ia kira oleh orang yang bertawakal tersebut. Ini adalah syirik kecil.
2) Perwakilan yang diperbolehkan
Yaitu ketika seseorang mewakilkan suatu pekerjaan yang dimampui kepada orang lain. Dengan demikian orang yang mewakilkan itu mencapai sebagian apa yang menjadi tuntutannya.
2. Macam-macam mahabbah
Mahabbah ada empat jenis yakni :
a. Mahabbah kepada Allah, yaitu cinta yang merupakan dasar iman dan tauhid.
b. Mahabbah karena Allah, yaitu mencintai nabi-nabi, rasul-rasul dan hamba-hamba –Nya yang sholeh serta mencintai apa yang dicintai Allah berupa amalan, waktu, tempat dan sebagainya. Cinta ini mengikuti dan menyempurnanan kecintaan kepada Allah.
c. Mahabbah bersama Allah, yaitu kecintaan orang-orang musyrik terhadap tuhan-tuhan dan sembahan-sembahan mereka seperti pohon, batu, manusia dan lain lain yang merupakan asal dan dasar dari syirik.
d. Mahabbah naluri terbagi menjadi tiga macam yakni :
1) Cinta pengorbanan dan penghargaan, seperti cinta pada orang tua.
2) Cinta kasih sayang dan rahmat, seperti kecintaan kepada anak.
3) Cinta yang memiliki oleh semua orang.
E. Tingkatan tawakal dan Mahabbah
1. Tingkatan tawakal
Tingkatan keadaan yang disebut tawakal berdasarkan kekuatan dan kelemahannya yaitu :
a. Pertama, yaitu keadaan dimana anda meyakini kebenaran bahwa Allah membantu dan menolong hamba-Nya, sebagiamana anda mempercayai orang yang menjadi wakil anda.
b. Kedua, tingkatan yang lebih tinggi, keadaan dimana anda merasa bersama Allah bagaikan anak dalam dekapan sang ibu. Anak-anak hanya mengenal ibunya, meminta tolong kepadanya, dan hanya bersandar kepadanya. Ketika ada bahaya menimpa, pikirannya hanyalah sang ibu dan kata pertama yang terlontar dari lidahnya adalah “ibu”. Jadi, jika anda menghamba kepada Allah, meyakini segala sesuatu datang dariNya, percaya dan bersandar kepadaNya layaknya seorang bayi kepada ibunya, maka tawakal anda sudah benar.
c. Ketiga, tingkatan ini merupakan tingkatan tertinggi yakni keadaan dimana anda memosisikan diri dihadapan Allah layaknya jenazah di depan orang yang memandikan nya, atau seperti anak kecil yang hendak dipisahkan dari ibunya. Anda merasa mati ketika jauh dari-Nya
2. Tingkatan mahabbah
Tingkatan mahabbah (cinta) menurut al-sarraj, cinta (mahabbah) terbagi menjadi tiga tingkatan yakni :
a. Cinta biasa
Yaitu selalu mengingat tuhan dengan dzikir, suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan tuhan. Senantiasa memuji tuhan.
b. Cinta orang yang shidiq
Yaitu orang yang kenal kepada tuhan, pada kebesaranNya, pada kekuasaanNya, pada ilmuNya dan lain lain. Cinta yang dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari tuhan dan dengan demikian dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada tuhan. Ia mengadakan dialog dengan tuhan dan memperoleh kesenangan dari dialog tersebut. Cinta tingkat kedua ini sanggup membuat seseorang itu menghilangkan kehendak dan sifat-sifat nya sendiri. Sedang hatinya penuh dengan perasaan cinta pada tuhan dan selalu rindu pada-Nya.
c. Cinta orang yang arif
Yaitu orang yang tahu betul pada tuhannya. Cinta seperti ini timbul karena telah tahu betul-betul pada tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai.
Adapun cinta karena Allah dan RosulNya memiliki dua tingkatan yaitu :
Pertama, wajib. Tingkatan ini dimiliki oleh porang-orang yang berbeda dalam tingkat menengah dalam beribadah (muqtashid). Orang muqtashid menjadikan Allah dan Rosul-Nya sebagai sesuatu yang paling dicintai dari segala sesuatu yang lain. Derajat dan cinta ini menuntut nya untuk mencintai seseorang untuk melakukan semua yang diwajibkan.
Kedua, sunnat atau mustahabbah. Tingkatan ini dimiliki oleh orang-orang terdepan dalam beribadah (sabiqun). Orang-orang terdepan (sabiqun) ini mencintai secara sempurna semuaamal sunnat dan memiliki keutamaan. Ini adalah cintanya orang-orang yang di dekatkan pada Allah. “cinta sunnat menjadi sempurna dengan melakukan amal-amal sunnat.”
Ibnu taimiyah membedakan cinta manusia yang punya kehendak dengan cinta hewan yang tidak punya kehendak. Cinta manusia misalnya cinta laki-laki pada perempuan lahir karena adanya daya tarik diantara keduanya, serta karena adanya saling keterpengaruhan di antara keduanya. Sementara rasa cinta sesama hewan lahir karena adanya perbuatan baik dari yang dicinta.
Seseorang pada dasarnya tidak mencintai sesuatu kecuali jika sesuatu itu memberinya mamnfaat dan ingin terhindar dari musibah. Ia mencintai seseorang atau sesuatu, karena yang dicintainya itu menjadi sarana baginya untuk mendapatkan apa yang di inginkan nya. Cinta seperti ini bukan cinta karena Allah, bukan pula cinta pada dzat sesuatu yang dicintainya. Oleh karena itu, kita harus membedakan cinta yang disertai dengan tauhid dengan cinta yang mengandung syirik.
Komentar
Posting Komentar