MAKALAH MAQAMAT DALAM TASAWUF : TAUBAT DAN SABAR
A. Pengertian Maqamat dalam Dunia Tasawuf
Maqamat adalah bentuk jamak dari kata maqam, yang secara bahasa berarti pangkat atau derajat. Dalam bahasa Inggris, maqamat disebut dengan istilah stations atau stages. Sementara menurut istilah ilmu tasawuf, maqamat adalah kedudukan seorang hamba di hadapan Allah, yang diperoleh dengan melalui peribadatan, mujahadat dan lain-lain, latihan spritual serta (berhubungan) yang tidak putus-putusnya dengan Allah SWT. atau secara teknis maqamat juga berarti aktivitas dan usaha maksimal seorang sufi untuk meningkatkan kualitas spiritual dan kedudukannya (maqam) di hadapan Allah SWT. dengan amalan-amalan tertentu sampai adanya petunjuk untuk mengubah pada konsentrasi terhadap amalan tertentu lainnya, yang diyaini sebagai amalan yang lebih tinggi nilai spirituanya di hadapan Allah SWT.
1. Maqamat Taubat
a. Pengertian Taubat
Secara etimologi, taubat berasal dari bahasa Arab. Yaitu dari kata ةوبت– توبي– ابتyangartinya kembali dari maksiat kepada taat. Secara terminologi islam, arti taubat adalah meninggalkan maksiat dalam segala hal, menyesali dosa yang pernah di perbuat dan tidak mengulanginya kembali.
Taubat menurut istilah para sufi adalah kembali kepada ketaatan dari perbuatan maksiat, kembali dari nafsu kepada haq (jalan kebenaran). Dalam kitab at-ta‟rifāt dijelaskan bahwa taubat adalah kembali kepada Allah dengan melepaskan ikatan yang membungkus hati (mengekang) kemudian bangkit menuju (memenuhi) hak Rab (Tuhan). Ada tiga macam taubah:
1) Al-taubah bagi orang awam, yaitu menyesali dan meninggalkan dosa - dosa lahir, seperti pembunuhan, zina, pencurian dan sebagainya.
2) Al-taubah bagi orang khawwas, yaitu menyesali dan meninggalkan dosa - dosa batin, seperti kesombongan, keangkuhan dengki dan sebagainya.
3) Al-taubah bagi orang khawwas al - khawwas, yaitu menyesal
dan meninggalkan perbuatan lalai dari zikir, Karena keistimewaan gologan ini adalah batinnya selalu ingat akan Allah SWT.
b. Dalil tentang Taubat
Sehubungan dengan perintah bertaubat, ditemukan ayat yang ditujukan Allah kepada orang beriman dengan menekankan tentang taubat murni yang terdapat dalam ayat 8 surat at- Tahrīm (66).
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
Artinya:
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Istilah taubat nasuha dalam ayat diatas dimaknai oleh Sa„id Hawwa yaitu taubat sadiqah (jujur, benar) dan khalisah (murni, bersih, tulus). Selanjutnya dijelaskannya dengan mengutip Ibnu Kasir bahwa taubat nasuha adalah taubat yang menghapus kesalahan yang lewat. Berbagai kekusutan ataupun kesalahan yang membuat diri terhina dan rendah lalu dihimpun dan menjadi terhapus dengan taubat. Artinya taubat tersebut berfungsi menghilangkan dan menghapus kesalahan.
C. Taubat menurut Para Tokoh Sufi
1. Imam Al-Ghazali
Beberapa konsep taubat yang diterangkan dalam kitab Minhajul Abidin karya Imam al-Ghazali:
Imam al-Ghazali berpendapat bahwa, taubat adalah suatu usaha dari beberapa pekerjaan hati. Singkatnya, menurut para ulama, taubat itu ialah membersihkan hati dari dosa. Imam al-Ghazali menekankan bahwa, para pelaku ibadah diharuskan untuk ber-taubat karena dua hal:
a. Supaya berhasil memperoleh pertolongan untuk mencapai ketaatan.
b. Supaya semua amal ibadahmu diterima oleh Allah SWT.
2. Rabi'ah Al-Adawiyyah
Hakikat taubat menurut arti bahasa adalah “kembali”. Kata taba berarti kembali, maka taubat maknanya juga kembali. Artinya, kembali dari sesuatu yang dicela dalam syariat menuju sesuatu yang dipuji dalam syari'at. Bisa juga diartikan taubat (yang diartikan kembali) adalah bagi orang berdosa, berarti kembali kepada Allah, ketaatan kepada Allah, dan Allah juga akan menampakkan melalui takdir-Nya menerima pertaubatan itu. Taubat pun juga mempunyai beberapa tingkatan:
1. Tingkat pertama dari taubat adalah dengan membiarkan seseorang merasa bersalah dan menyesali perbuatannya secara mendalam.
2. Tingkat kedua, penyesalan (taubat) berarti menghapuskan kebiasaan masa lalu serta perilaku yang terus diulang oleh seseorang.
3. Tingkat ketiga, menekankan bahwa bertaubat berarti membebaskan seseorang dari kecenderungan untuk tidak adil, rasa permusuhan, serta terhapusnya dorongan prasangka yang merusak.
3. Dzun Nun Al-Misri
Dzun Nun Al-Misri mengatakan, “Meminta ampun dari dosa tanpa menanggalkan dosa tersebut, merupakan tobat para pendusta. Barang siapa bertobat, kemudian tidak melanggar atau memutus tobatnya, maka ia termasuk orang yang bahagia. Jika ia melanggar satu atau dua kali, lalu memperbarui taubatnya, maka diharapkan ia nantinya akan semakin bisa menjaga taubatnya, sebab segala sesuatu sudah ada ketentuannya.”
Al-Misri membagi taubat menjadi tiga tingkatan, yaitu:
a. Orang yang bertaubat karena dari dosa dan keburukannya
b. Orang yang bertaubatdari kelalaiannya dan kealfaannya dalam mengingat Tuhan
c. Orang yang bertaubat karena memandang kebaikan dan ketaatannya.
2. Maqamat Sabar
a. Pengertian Sabar
Secara harfiah sabar artinya tabah hati. Di kalangan para sufi, sabar diartikan sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah, dalam menjauhi segala larangan-Nya, dan dalam menerima segala percobaan yang ditimpakan-Nya pada diri kita. Sabar merupakan salah satu dari sekian maqamat untuk menuju kepada ma‟rifat. Dengan kesabaran seseorang akan menjadi lebih terang hatinya sehingga lebih mudah dalam meyakini ke-Agungan Allah. Makna sabar menurut ahli sufi pada dasarnya sama yaitu sikap menahan diri terhadap apa yang menimpanya. Menurut al-Sarraj sabar terbagi atas tiga macam yaitu:
1) Orang yang berjuang untuk sabar
2) Orang yang sabar
3) Orang yang sangat sabar
b. Dalil tentang Sabar
Di dalam Al-Qur”an disebutkan berbagai jenis kesabaran yang utama, diantaranya :
1) Sabar dalam menghadapi berbagai cobaan didunia.
“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (Qs. Al-Balad : 4)
2) Sabar untuk tidak memperturutkan yang diinginkan oleh hawa nafsu. Sehubung dengan hal ini, Allah SWT. Telah berfirman
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang mengerjakan hal terseebut maka sungguh mereka itu termasuk golongan orang yang merugi.” (Qs. Al-Munafiqun : 9)
c. Sabar menurut Tokoh Sufi
1) Al-Ghazali membagi sabar berdasarkan tingkat pengendalian nafsu dalam diri manusia, yaitu terbagi menjadi tiga tingkatan:
a) Orang yang sanggup mengalahkan hawa nafsunya karena ia mempunyai daya juang yang tinggi.
b) Orang yang kalah oleh hawa nafsunya, ia telah mencoba bertahan atas dorongan hawa nafsunya, tetapi karenya kesabaranya lemah maka ia kalah.
c) Orang yang mempunyai daya tahan terhadap dorongan nafsu tapi suatu ketika ia kalah karena besarnya dorongan nasu. Meskipun demikian, ia bangun lagi dan terus bertahan dengan sabar atas dorongan nafsu tersebut.
2) Dzun Nun al-Misri, sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Allah, tetapi tenang ketika mendapatkan cobaan, dan menampakkan sikap cukup walaupun sebenarnya bearda dalam kefakiran dalam bidang ekonomi.
3) Al-Kalabadzi, mengatakan bahwa sabar adalah pengharapan akan kesenangan atau kegembiraan dari Allah, dan ini merupakan pengabdian yang paling mulia dan paling tinggi. Tetapi sabar pada tingkat yang lebih tinggi adalah ‟sabar atas kesabaran‟ maksudnya seseorang tiak seharusnya mencari kesenangan atau kegembiraan apapun.
Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan mengenai tasawuf sangatlah luas, maka dari itu jangan hanya terpaku pada satu bagian saja, akan tetapi bagian lain juga harus tetap dipelajari.
Komentar
Posting Komentar