Definisi, Ruang Lingkup, dan Dasar-Dasar Akhlak Tasawuf

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puja dan puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan banyak karunia-Nya sehingga masih bisa merasakan nikmat sehat, iman serta Islam sampai sekarang. Sholawat serta salam saya haturkan kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. yang selalu dinanti-nantikan syafa'at nya di Yaumil Akhir. Aamiin yaa robbal alamiin.


Di kesempatan kali ini, saya akan membahas mengenai akhlak tasawuf.


Akhlak

Pengertian akhlak secara bahasa berarti budi pekerti, adat kebiasaan, perangai, muru’ah atau segala sesuatu yang sudah menjadi tabi’at. Sedangkan secara istilah, terdapat pengertian akhlak menurut beberapa tokoh, yaitu sebagai berikut:
Ibnu Miskawaih mengungkapkan akhlak adalah Sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Sedangkan menurut Imam al-Ghazali, akhlak adalah Sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. 


Ruang Lingkup Akhlak Islami

Yang pertama yaitu akhlak terhadap Allah, sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan manusia kepada Allah. Misal: takwa kepada-Nya, tidak menyekutukan-Nya, beribadah, dll. Yang kedua, akhlak terhadap manusia, tidak hanya terkait larangan menyakiti badan, membunuh dan mengambil harta tanpa alasan yang benar, melainkan juga sampai pada larangan menyakiti hati. Yang ketiga, akhlak terhadap lingkungan, lingkungan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbuhan maupun benda-benda tak bernyawa.


Tasawuf

Pengertian tasawuf secara bahasa, terdapat beberapa pengertian, yaitu sebagai berikut:
Yang pertama, tasawuf dikonotasikan dengan ahl ash-shuffah, yaitu sekelompok orang di masa Nabi yang banyak berdiam diri di serambi masjid untuk beribadah kepada Allah SWT. Yang kedua, berasal dari kata shafa yang artinya suci. Kemudian yang ketiga, berasal dari kata shaff yang dinisbahkan kepada orang yang ketika shalat selalu berada di barisan belakang. Lalu yang keempat, dinisbahkan dengan kata shopos (Yunani) yang disamakan dengan kata hikmah (Arab) yang berarti kebijaksanaan. Yang terakhir, berasal dari kata shuf, yaitu kain dari bulu wol yang kasar. 

Sedangkan secara istilah, tasawuf adalah usaha melatih jiwa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, yang dapat membebaskan manusia dari pengaruh kehidupan dunia untuk ber-taqarrub kepada Tuhan sehingga jiwanya bersih, mencerminkan akhlak mulia dalam kehidupannya dan menemukan kebahagiaan spiritual. Sufi merupakan sebutan untuk seseorang yang melakukan tasawuf. Sufi adalah orang yang bersih dari kotoran, penuh pemikiran dan hanya memusatkan semata-mata pada Allah SWT. baginya, antara harta benda dan tanah liat bernilai sama (Syaikh Abu Muhammad Sahl bin Abdullah At-Tustari). 


Dasar-Dasar Tasawuf dalam Al-Qur’an

Yang pertama, Qs. Qaf [50]: 16 yang artinya kurang lebih:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
Yang kedua, Qs. Fathir [35]: 5 yang artinya kurang lebih:
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu memperdaya. 
Tidak hanya itu saja, dasar-dasar tasawuf juga terdapat di beberapa surat lainnya di dalam Al-Qur'an, diantaranya, Qs. At-Tahrim [66]: 8; Qs. Al-Maidah [5]: 54; Qs. Al-Baqarah [2]: 115, 186; Qs. An-Nur [24]: 35; Qs. An-Nisa [4]: 77.

Dasar Tasawuf dalam Hadits
Dalam Hadits Qudsi disebutkan:
“Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW. bersabda, bahwa Allah SWT. berfirman: ‘Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan peperangan terhadapnya. Tidak ada sesuatu yang mendekatkan hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku yang Aku sukai daripada pengalaman yang Aku wajibkan atasnya. Kemudian hamba-Ku yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan amal-amal sunnah, maka Aku senantiasa mencintainya. Jika Aku telah cinta kepadanya, jadilah Aku pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, Aku tangannya yang dengannya ia memukul dan Aku kakinya yang dengannya ia berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, Aku perkenankan pemohonannya. Jika ia meminta perlindungan, ia Aku lindungi. Dan jika ia mengulang-ulang sesuatu maka Aku adalah pelakunya, sebagaimana keraguan seorang mukmin yang membenci kematian sementara Aku membenci keburukannya.” (HR. Al-Bukhari). 

Dari uraian diatas dapat saya pahami, bahwa disetiap kita akan melakukan sebuah perbuatan, hendaknya kita selalu mempertimbangkan baik buruknya agar kita tidak mudah menyakiti hati orang lain. Kita juga dianjurkan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. dengan memperbanyak beribadah kepada-Nya.

Sekian pembahasan kali ini, kurang lebihnya mohon maaf. Semoga pembahasan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin ya robbal alamiin.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAQAMAT DALAM TASAWUF : MA’RIFAT DAN RIDHO

MAKALAH MAQAMAT DALAM TASAWUF : TAUBAT DAN SABAR

MAQOMAT DALAM TASWUF : TAWAKAL DAN MAHABBAH